TEMANGGUNG – Inovasi berbasis kearifan lokal kembali hadir melalui ajang Krenova Masyarakat Kabupaten Temanggung. Tim pengusul yang terdiri dari Septian Nugroho dan Febrian Ferdiansah mengembangkan inovasi bertajuk “Alternatif Rigen sebagai Pengganti Material Fasad Bangunan” dalam Krenova 2025 Kabupaten Temanggung.
Inovasi tersebut berangkat dari keberadaan rigen atau widik, yaitu lembaran anyaman bambu berbentuk persegi panjang yang selama ini digunakan petani sebagai alas untuk proses pengeringan tembakau. Setelah masa panen selesai, rigen yang sudah tidak digunakan sering kali hanya disimpan atau dibiarkan hingga rusak. Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan untuk memberikan fungsi baru pada material tersebut.
Melalui inovasi ini, rigen tidak hanya dipandang sebagai peralatan pascapanen tembakau, tetapi juga dimanfaatkan sebagai elemen arsitektur. Rigen dapat diaplikasikan sebagai alternatif roster, shading façade, pagar semi permanen, maupun penutup kanopi untuk mempercantik tampilan rumah.
Selain memberikan tampilan yang unik, pemanfaatan rigen juga menawarkan keuntungan dari sisi ekonomi. Dalam proposalnya, tim pengusul memberikan perbandingan biaya untuk bidang berukuran 0,8 x 2 meter. Kebutuhan roster berukuran 20 x 20 sentimeter mencapai sekitar 40 buah dengan biaya pembelian sekitar Rp320 ribu. Sementara itu, satu rigen berukuran standar 0,8 x 2 meter disebut berada pada kisaran harga Rp32 ribu hingga Rp85 ribu, tergantung kualitas dan jarak lokasi.
Dari sisi fungsi, penggunaan rigen sebagai alternatif roster tetap memungkinkan masuknya cahaya matahari dan aliran udara. Material tersebut juga dapat berfungsi sebagai shading façade untuk membantu menghalau cahaya matahari yang berlebihan. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya mengejar nilai estetika, tetapi juga mempertahankan fungsi yang dibutuhkan pada elemen fasad bangunan.
Keunikan lain terletak pada nilai budaya yang dibawa oleh rigen. Bentuk anyaman bambu yang sudah familiar bagi masyarakat Temanggung dapat memberikan karakter khas pada bangunan. Pengaplikasiannya sebagai elemen fasad dinilai mampu menghadirkan kesan tradisional, unik, hangat, dan terbuka terhadap lingkungan sekitar. Pada saat yang sama, penggunaan rigen dapat menjadi media tidak langsung untuk memperkenalkan salah satu bagian dari budaya dan komoditas utama Temanggung, yakni tembakau.
Dalam proposal tersebut, tim juga menghadirkan contoh penerapan rigen pada sebuah rumah di wilayah Kabupaten Temanggung. Rigen diaplikasikan pada pagar, kanopi, serta shading façade atau secondary façade. Hasil penerapan tersebut menunjukkan bahwa material sederhana dari anyaman bambu dapat memberikan perubahan visual pada bangunan sekaligus mempertahankan kesan khas pedesaan Temanggung.
Bagi masyarakat, inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mewujudkan fasad rumah yang menarik dan fungsional dengan biaya yang lebih ekonomis. Di sisi lain, pemanfaatan kembali rigen juga berpotensi membuka peluang tambahan bagi para pengrajin karena produk rigen tidak hanya dibutuhkan pada masa pengeringan tembakau, tetapi dapat dikembangkan untuk kebutuhan arsitektur.
Lebih jauh, inovasi tersebut membawa semangat pemanfaatan kembali material yang sebelumnya kurang termanfaatkan. Rigen yang telah selesai digunakan dalam proses pascapanen dapat diberi nilai tambah melalui pemanfaatannya sebagai bagian dari bangunan.
Melalui Krenova Masyarakat, inovasi Alternatif Rigen sebagai Pengganti Material Fasad Bangunan menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi kreatif yang memiliki nilai ekonomi, fungsi, estetika, sekaligus membawa identitas budaya daerah.
Tim pengusul menyimpulkan bahwa rigen atau widik memiliki potensi untuk diaplikasikan sebagai alternatif komponen fasad dengan biaya yang lebih ekonomis, namun tetap mempertahankan fungsi dan nilai estetika bangunan.
BAPPERIDA