TEMANGGUNG – Belajar tentang budaya dan sejarah tidak harus selalu dilakukan melalui buku teks. Sekelompok siswa SMK Negeri Bansari menghadirkan cara yang lebih kreatif dan menyenangkan melalui inovasi Aksi Figur 2 Dimensi berbahan dasar multiplex.
Inovasi yang dikembangkan oleh Nilna Sakda Aula Anjumi, Bunga Putri Agustina, dan Ratna Sekar Ningrum ini menggabungkan unsur seni, edukasi, budaya, teknologi, sekaligus aktivitas permainan dalam satu produk.
Bukan sekadar pajangan atau mainan, Aksi Figur 2 Dimensi dirancang sebagai media edukasi interaktif yang memungkinkan penggunanya merakit sekaligus mewarnai sendiri figur yang tersedia. Tokoh yang diangkat dapat berupa tokoh pewayangan, pahlawan nasional, hingga karakter lain yang memiliki nilai sejarah, budaya, maupun edukatif.
Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan akan media pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membuat anak terlibat secara langsung. Melalui kegiatan merakit dan mewarnai, anak tidak hanya mengenal sosok yang ditampilkan, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.
Belajar Sambil Bermain
Konsep Do It Yourself (DIY) menjadi salah satu daya tarik utama inovasi ini. Figur dibuat dalam bentuk komponen yang dapat dirakit menggunakan sistem slot atau puzzle, sehingga pengguna dapat menyusun figur secara mandiri. Setelah dirakit, figur juga dapat diberi warna sesuai kreativitas masing-masing.
Aktivitas sederhana tersebut memiliki manfaat lebih luas. Proses merakit dan mewarnai dapat membantu melatih koordinasi tangan dan mata, ketelitian, kesabaran, serta keterampilan motorik halus, khususnya bagi anak-anak. Di sisi lain, kebebasan menentukan warna dan menyusun figur memberikan ruang bagi pengguna untuk mengekspresikan kreativitas.
Yang membuat produk ini semakin bernilai adalah adanya informasi mengenai tokoh yang disertakan bersama produk. Informasi tersebut dapat memuat nama tokoh, asal-usul atau latar belakang singkat, serta nilai moral yang dapat dipetik.
Dengan demikian, satu produk memiliki dua fungsi sekaligus: sebagai media bermain dan sebagai media pembelajaran.
Menghidupkan Kembali Tokoh Budaya dan Sejarah
Di tengah maraknya produk mainan modern, inovasi siswa SMK Negeri Bansari ini mencoba menghadirkan alternatif dengan mengangkat tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan budaya dan sejarah Indonesia.
Tokoh pewayangan dan pahlawan nasional menjadi salah satu tema yang diutamakan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Alih-alih hanya melihat gambar tokoh di buku, anak dapat memegang, merakit, mewarnai, dan kemudian mengenali kisah serta nilai yang melekat pada tokoh tersebut.
Konsep ini sekaligus menjadi bentuk kecil dari upaya pelestarian budaya. Produk kreatif tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda.
Memanfaatkan Teknologi Laser Cutting
Keunikan inovasi ini tidak berhenti pada konsep edukasinya. Dalam proses produksinya, tim memanfaatkan teknologi laser cutting untuk menghasilkan potongan multiplex yang presisi.
Tahapan produksi diawali dengan studi literatur dan pengumpulan referensi mengenai tokoh yang akan diangkat. Selanjutnya dilakukan perancangan desain secara digital menggunakan perangkat lunak desain grafis seperti CorelDRAW atau Inkscape.
Desain kemudian diubah ke dalam format vektor untuk kebutuhan laser cutting. Material multiplex dengan ketebalan 5 milimeter dipotong menggunakan mesin laser cutting sebelum dirakit menjadi prototipe.
Penggunaan teknologi tersebut membuat proses pemotongan menjadi lebih rapi, presisi, cepat, dan konsisten. Komponen yang dihasilkan juga dirancang menggunakan sistem modular sehingga dapat dirakit tanpa membutuhkan lem atau peralatan khusus.
Alternatif Produk Edukatif Ramah Lingkungan
Pemilihan multiplex sebagai bahan utama juga menjadi bagian dari konsep inovasi. Produk dirancang sebagai alternatif mainan berbahan dasar plastik dengan mengedepankan material yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Selain itu, penggunaan multiplex memberikan fleksibilitas dalam pengembangan desain. Figur dapat dibuat dalam berbagai ukuran, karakter, maupun tingkat kesulitan perakitan. Hal tersebut memungkinkan produk dikembangkan untuk berbagai kelompok usia dan kebutuhan, mulai dari media pembelajaran, koleksi, hadiah, hingga cinderamata edukatif.
Produk ini bahkan berpotensi dikembangkan tidak hanya sebagai barang jadi, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas edukasi. Konsepnya dapat diarahkan menjadi kegiatan workshop merakit dan mewarnai, komunitas kreatif, maupun program pembelajaran di sekolah.
Harga Terjangkau, Berpeluang Masuk Industri Kreatif
Dari sisi ekonomi, inovasi ini juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk industri kreatif lokal. Proposal mencatat bahwa penggunaan bahan dan teknologi yang relatif terjangkau memungkinkan produk dibuat secara efisien dan dipasarkan dengan harga kompetitif.
Untuk ukuran bahan 30 x 30 sentimeter dengan skema lima warna serta tambahan kuas dan cat, biaya produksi diperkirakan sekitar Rp6.800. Setelah memperhitungkan administrasi, keuntungan, pengemasan, dan pengiriman, harga jual diperkirakan berada pada kisaran Rp12.000 hingga Rp15.000 per produk.
Angka tersebut membuka peluang bagi Aksi Figur 2 Dimensi untuk dikembangkan sebagai produk kreatif yang tidak hanya memiliki nilai edukasi, tetapi juga nilai ekonomi.
Dari Karya Siswa Menjadi Produk yang Berkelanjutan
Pengembangan Aksi Figur 2 Dimensi menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan sekolah tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Kreativitas dalam melihat kebutuhan, memadukan teknologi yang tersedia, serta memberikan nilai tambah pada produk dapat melahirkan inovasi yang sederhana tetapi memiliki manfaat luas.
Ke depan, produk ini dapat dikembangkan melalui variasi tokoh, desain, ukuran, tingkat kesulitan, maupun tema khusus. Pengembangannya juga terbuka untuk kolaborasi dengan seniman, sekolah, komunitas kreatif, hingga pelaku industri kreatif lokal.
Dengan memadukan budaya, edukasi, kreativitas, dan teknologi, Aksi Figur 2 Dimensi karya siswa SMK Negeri Bansari menjadi contoh bahwa pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk yang menyenangkan sekaligus produktif.
Dari selembar multiplex, lahirlah sebuah figur. Dari sebuah figur, anak-anak diajak merakit, mewarnai, belajar, dan mengenal budaya. Dan dari kreativitas siswa, terbuka peluang lahirnya produk lokal yang memiliki nilai edukatif sekaligus ekonomi.
BAPPERIDA