TEMANGGUNG – Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah dari bengkel ternyata dapat diubah menjadi sumber energi alternatif. Berangkat dari persoalan melimpahnya oli bekas yang selama ini umumnya hanya ditampung dan dijual kepada pengepul, Retnawan, warga Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, mengembangkan Kompoli (Kompor Oli Bekas), sebuah inovasi kompor yang memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar.
Inovasi tersebut lahir dari kegelisahan sederhana terhadap kebutuhan energi yang semakin mahal, sekaligus persoalan limbah oli yang belum banyak dimanfaatkan di tingkat lokal. Dalam proposal inovasinya, Retnawan melihat bahwa oli bekas dari bengkel di Temanggung masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, khususnya untuk kebutuhan pemanasan pada industri kecil dan menengah.
Alih-alih membiarkan oli bekas menjadi limbah, Retnawan merancang tungku atau pembakar khusus agar oli dapat digunakan untuk menghasilkan nyala api dan panas yang besar. Desain Kompoli dibuat menggunakan bahan-bahan yang relatif sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar sehingga memungkinkan untuk dikembangkan dengan biaya yang terjangkau.
Berawal dari Persoalan Energi dan Limbah
Kebutuhan energi menjadi salah satu alasan utama Retnawan mengembangkan Kompoli. Selama ini masyarakat maupun pelaku industri masih bergantung pada bahan bakar seperti minyak bumi dan gas. Di sisi lain, harga LPG dan keterbatasan bahan bakar tertentu dapat menjadi beban bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Pada saat yang sama, bengkel-bengkel kendaraan menghasilkan oli bekas yang secara rutin ditampung sebelum dijual kepada pengepul. Kondisi tersebut memunculkan gagasan: bagaimana jika limbah oli yang tersedia di sekitar masyarakat tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi?
Gagasan itulah yang kemudian diwujudkan melalui Kompoli.
Retnawan tidak hanya membuat kompor, tetapi juga merancang sistem pembakar yang disesuaikan dengan karakteristik oli bekas. Berdasarkan hasil uji coba yang dituangkan dalam proposal, desain Kompoli mampu menghasilkan nyala api besar dan panas sehingga dinilai berpotensi digunakan untuk kebutuhan industri kecil dan menengah.
Sederhana, tetapi Punya Potensi Ekonomi
Salah satu kekuatan Kompoli terletak pada konstruksinya yang sederhana. Komponen utama yang digunakan antara lain besi hollow, plat eser, pipa, keran, dan blower. Total kebutuhan bahan dalam proposal tercatat sekitar Rp610.000.
Kesederhanaan tersebut menjadi bagian penting dari gagasan Retnawan. Inovasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk teknologi yang rumit dan mahal. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh, teknologi tepat guna justru dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Kompoli juga diarahkan untuk memberikan efisiensi biaya bagi pengguna. Oli bekas yang tersedia dengan harga murah atau bahkan dapat diperoleh tanpa biaya dinilai memiliki potensi menjadi pilihan bahan bakar alternatif, terutama bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Dari Bengkel Abi Teknik untuk Industri Kecil
Kompoli dirancang dan diuji coba di Bengkel Abi Teknik, Dusun Wonorejo, Desa Kebonsari, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung. Proses pengembangannya dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perencanaan, pembuatan, uji coba hingga penyempurnaan alat.
Bagi Retnawan, inovasi ini bukan sekadar menciptakan sebuah kompor. Lebih jauh, Kompoli diharapkan dapat menjadi alternatif teknologi yang membantu pelaku industri kecil dan menengah menekan biaya produksi sekaligus membuka perspektif baru mengenai pemanfaatan limbah.
Pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar juga diharapkan dapat mengurangi volume limbah yang tidak termanfaatkan. Proposal Kompoli mencatat sejumlah keunggulan, antara lain efisiensi biaya, pengurangan limbah, kemudahan pembuatan, potensi panas yang stabil, serta peluang pengembangan teknologi lokal.
Mengubah Cara Pandang terhadap Limbah
Kompoli memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dan kebutuhan ekonomi dapat dipertemukan melalui inovasi sederhana.
Oli bekas yang sebelumnya hanya dipandang sebagai sisa aktivitas bengkel dapat diarahkan menjadi bagian dari solusi kebutuhan energi. Sementara bagi pelaku industri kecil dan menengah, keberadaan alternatif bahan bakar berpotensi memberikan pilihan baru dalam proses produksi.
Namun, Retnawan menyadari bahwa Kompoli masih membutuhkan pengembangan. Dalam proposalnya, ia menyebut perlunya peningkatan efektivitas dan efisiensi alat, dukungan pendanaan untuk pengembangan, serta pembinaan dalam penggunaan kompor oli bekas.
Di sinilah nilai penting sebuah inovasi lokal: bukan berhenti pada terciptanya sebuah alat, tetapi terus dikembangkan agar semakin aman, efektif, efisien, dan sesuai kebutuhan pengguna.
Melalui Kompoli, Retnawan menunjukkan bahwa ide inovasi dapat lahir dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sebuah bengkel di Wonoboyo, oli bekas yang selama ini dianggap tidak bernilai coba diberi kehidupan kedua—bukan sekadar sebagai limbah, tetapi sebagai sumber energi alternatif untuk mendukung aktivitas produksi masyarakat.
BAPPERIDA