TEMANGGUNG – Di tengah gempuran modernisasi dan maraknya produk batik massal luar daerah, Batik Kelingan Kabupaten Temanggung membuat terobosan baru dengan meluncurkan inovasi edukasi terpadu bernama "TUTIK KENANGRI" (Satu Titik Batik Tumbuh Kenangan dan Memori). Inovasi yang masuk dalam ajang Kreanova 2026 ini berfokus pada pengembangan pusat edukasi batik interaktif berbasis budaya lokal yang menyasar kalangan pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara.
Usaha batik yang telah berdiri sejak tahun 2011 ini sengaja menggeser fokusnya tidak sekadar menjual produk jadi, melainkan menawarkan wisata edukasi budaya. Melalui metode learning by doing (belajar sambil mempraktikkan), para peserta diajak untuk terjun langsung memegang canting, membuat pola, mewarnai, hingga memahami makna filosofis yang terkandung di setiap motif batik khas yang mereka buat.
"Inovasi ini hadir sebagai solusi atas menurunnya minat generasi muda terhadap proses panjang pembuatan batik tradisional. Kami ingin membangun ruang belajar budaya yang edukatif, interaktif, sekaligus produktif," tulis Tim Tutik Kenangri dalam dokumen proposalnya.
Sejak merintis kegiatan edukasi pada 2021, Batik Kelingan aktif menjadi narasumber ekstrakurikuler serta workshop di berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya itu, berkolaborasi dengan pemandu wisata lokal (tour guide), tempat ini mulai rutin dikunjungi oleh wisatawan asing yang ingin merasakan langsung pengalaman membatik. Bahkan, pada tahun 2025 lalu, mereka sukses melakukan uji coba penyediaan fasilitas penginapan selama tujuh hari bagi tamu mancanegara.
Uniknya, pergerakan wisata edukasi ini membawa dampak domino bagi perekonomian masyarakat sekitar lokasi workshop. Kehadiran para rombongan peserta terbukti mampu mendongkrak omzet pedagang kaki lima hingga dua kali lipat, sekaligus membuka lapangan pendapatan baru bagi warga yang mengelola jasa parkir dan kebersihan. Pihak pengelola bahkan kini tengah membangun area khusus bagi UMKM setempat agar bisa ikut memamerkan produk mereka saat workshop berlangsung.
Untuk menunjang keberlanjutan program, paket edutourism ini dikomersialisasikan secara profesional. Berdasarkan rincian anggaran, biaya produksi untuk satu sesi paket kelompok (diasumsikan 20 peserta) membutuhkan biaya sekitar Rp650.000,00, yang mencakup bahan baku, konsumsi, kebersihan, hingga honor tenaga ahli pendamping. Paket tersebut kemudian dipasarkan seharga Rp75.000,00 per peserta, di mana keuntungan yang diperoleh akan diputar kembali untuk investasi alat, pengembangan inovasi, serta pemberdayaan UMKM sekitar.
Ke depan, Batik Kelingan berkomitmen untuk memperkuat aspek legalitas usahanya, termasuk pengurusan hak merek dan hak cipta motif batik khas ciptaan mereka. Langkah tersebut diharapkan mampu memantapkan posisi Batik Kelingan sebagai pelopor komersialisasi inovasi sosial berbasis budaya di Kabupaten Temanggung.
BAPPERIDA