TEMANGGUNG – Pelaksanaan pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar masih sering menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga tingginya biaya untuk melakukan screening (penapisan) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara berkala. Menjawab persoalan ini, Anastasia Nana Astuti, S.Pd., M.Pd., Kepala SD Negeri Sunggingsari Parakan, menciptakan inovasi aplikasi bernama SIGAP-ABK (Sistem Informasi Gagas Pendataan ABK). Inovasi ini diajukan dalam ajang Penjaringan Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Temanggung Tahun 2026.
Deteksi Dini yang Praktis dan Kolaboratif
SD Negeri Sunggingsari memiliki 101 siswa dan saat ini mendampingi 4 anak berkebutuhan khusus. Karena keterbatasan anggaran untuk mendatangkan tenaga ahli secara rutin, aplikasi SIGAP-ABK hadir sebagai solusi penapisan mandiri berbasis Android yang praktis, humanis, dan gratis.
Dalam pengembangannya, pihak sekolah berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (UNNES) dari Fakultas Psikologi dan Teknologi Informatika. Aplikasi ini menyediakan instrumen digital yang dapat diakses oleh guru melalui PIN dan orang tua melalui kode akses khusus. Sistem akan otomatis memetakan kondisi anak ke dalam tiga kategori: Normal, Bergejala, atau Berkebutuhan Khusus (ABK).
Hasil Uji Coba Lapangan
Pada tahap uji coba di kelas 1 dan 2, aplikasi ini berhasil menghimpun 19 data penilaian dengan hasil sebagai berikut:
- 52,63% (10 anak): Berada dalam kategori Normal sesuai milestone usianya.
- 36,84% (7 anak): Menunjukkan Gejala Ringan (1-2 indikator deviasi) dan memerlukan observasi berkala.
- 10,53% (2 anak): Teridentifikasi dalam kategori ABK (3-5 gejala) sehingga memerlukan rujukan klinis ke psikolog anak.
Uji coba ini juga menemukan adanya perbedaan sudut pandang (cross-assessment), di mana seorang anak dinilai normal oleh guru, tetapi terindikasi memiliki satu gejala kebutuhan khusus oleh orang tuanya di rumah. Hal ini membuktikan pentingnya integrasi data real-time dari dua lingkungan berbeda yang difasilitasi oleh SIGAP-ABK.
Efisiensi Biaya dan Target ke Depan
Melalui optimalisasi sumber daya lokal dan kemitraan akademis, inovasi ini berhasil dikembangkan dengan total biaya produksi sebesar Rp0,- (nol rupiah). Inovasi ini juga telah mendapatkan Surat Rekomendasi resmi dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Temanggung.
Ke depannya, aplikasi yang saat ini masih berbentuk format .apk mandiri ini akan terus disempurnakan agar bisa diunduh langsung melalui Google Play Store. Langkah digitalisasi ini diharapkan dapat direplikasi oleh sekolah reguler lainnya demi mewujudkan sistem pendidikan inklusif yang adil dan merata di Kabupaten Temanggung.
BAPPERIDA