TEMANGGUNG – Keterlambatan produksi Air Susu Ibu (ASI) pada hari-hari awal persalinan sering kali memicu kecemasan bagi ibu nifas dan memicu pemberian susu formula secara dini. Kondisi ini berisiko menggagalkan program ASI eksklusif serta meningkatkan angka stunting.
Melihat fenomena tersebut, Secondara Sixna Tamara Ibrahim (Bidan PNS RSUD Temanggung) bersama Rona Syntia Rihhadatul Aisy, S.Tr.Keb menciptakan inovasi kesehatan berjudul JELITA ASI (Jelatang untuk Optimalisasi Laktasi Ibu Nifas). Karya ini resmi diajukan dalam ajang Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Temanggung Tahun 2026.
Manfaatkan Daun Jelatang yang Kerap Dianggap Liar
Inovasi ini memanfaatkan daun jelatang (Urtica dioica) yang selama ini dianggap tanaman liar tak berguna oleh masyarakat lokal. Berdasarkan studi literatur dan hasil studi banding pengobatan tradisional ke Thailand yang dilakukan inovator, daun jelatang terbukti kaya akan kandungan flavonoid, polifenol, dan antioksidan. Senyawa tersebut berfungsi efektif sebagai galaktagog (booster laktasi) serta mampu menurunkan hormon stres yang kerap menghambat produksi ASI.
Sistem Intervensi Medis yang Praktis & Terukur
Berbeda dengan konsumsi herbal tradisional biasa, JELITA ASI memadukan produk herbal terstandar dengan pendampingan klinis:
- Sasaran Utama: Ibu nifas hari ke-1 sampai ke-7 pascapersalinan, terutama ibu baru (primipara) yang produksi ASI-nya masih sedikit.
- Bentuk Sediaan: Ekstrak daun jelatang dikemas dalam bentuk kapsul dosis terukur 500 mg untuk dikonsumsi selama 7 hari.
- Pendampingan Terpadu: Pemberian kapsul dilengkapi dengan edukasi teknik menyusui menggunakan leaflet dan lembar monitoring volume ASI.
- Penerapan Luas: Sangat fleksibel untuk diaplikasikan di Praktik Mandiri Bidan (PMB), Puskesmas, maupun Rumah Sakit.
Analisis Biaya dan Pengembangan Ekonomi Lokal
Inovasi JELITA ASI dirancang memiliki dua arah sediaan, yakni sediaan teh seduh sederhana untuk skala home industry (UMKM) serta sediaan kapsul ekstrak terstandar untuk skala komersial yang lebih luas. Proses ekstraksi awal dikerjasamakan dengan laboratorium STIFAR Semarang, namun ditargetkan dapat diproduksi mandiri di laboratorium lokal Temanggung dalam jangka panjang.
Dari aspek ekonomi, produk ini sangat murah. Memanfaatkan 3,5 kg simplisia daun jelatang kering yang diperoleh gratis dari kebun warga, tim dapat memproduksi 350 kapsul yang cukup untuk mendampingi 50 ibu nifas. Dengan total Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp2.250.000,-, estimasi biaya intervensi lengkap hanya membutuhkan Rp45.000,- per ibu.
JELITA ASI diharapkan menjadi solusi konkret untuk mendongkrak capaian ASI eksklusif dan menekan stunting di Kabupaten Temanggung melalui pemanfaatan kearifan lokal yang berbasis riset ilmiah.
BAPPERIDA