TEMANGGUNG – Dikenal luas sebagai sentra penghasil komoditi tembakau terbesar di Indonesia sekaligus salah satu pemilik kualitas terbaik di dunia, Kabupaten Temanggung terus menghadapi tantangan dalam mempertahankan mutu daun tembakaunya. Salah satu kendala utama para petani lokal adalah serangan ulat grayak (Spodoptera litura) yang memakan daun hingga berlubang, sehingga menurunkan kualitas daun menjadi filler (kualitas rendah) berharga murah.
Guna menekan ketergantungan petani pada pestisida sintetis berbahan kimia aktif yang mahal dan mencemari lingkungan, tim peneliti muda dari SMP Negeri 1 Temanggung yang beranggotakan Viesya Ayu Maharani, Queen Aruna Bastian, dan Wistara Abid Pranaja meracik bio-insektisida ramah lingkungan dari tanaman lokal. Inovasi ilmiah ini resmi diajukan untuk bersaing dalam ajang Lomba Krenova Kabupaten Temanggung Tahun 2026.
Manfaatkan Senyawa Saponin dan Flavonoid
Tim inovator memanfaatkan daun kenikir (Cosmos caudatus) yang selama ini melimpah di halaman rumah warga namun sering kali hanya berakhir sebagai sampah daun kering. Berdasarkan kajian literatur, daun kenikir memiliki kandungan senyawa aktif yang melimpah, seperti saponin, flavonoid, polifenol, tanin, terpenoid, dan minyak atsiri.
"Senyawa saponin pada ekstrak daun kenikir memiliki rasa pahit dan bersifat repellent (penolak serangga). Pada konsentrasi tinggi, saponin bekerja sebagai racun kontak yang diserap melalui kulit serangga, mengganggu sistem pernapasan, dan menyebabkan ulat lemas hingga mati," tulis tim peneliti SMPN 1 Temanggung dalam makalinya.
Selain itu, kandungan flavonoid di dalamnya bekerja aktif menghambat fungsi membran sel ulat sehingga memicu kerusakan mekanis pada sistem fisiologis hama tersebut.
Metode Eksperimen dan Hasil Uji Lab
Penelitian eksperimen laboratorium ini dilakukan secara in vitro di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Temanggung pada periode 2 September hingga 17 September 2024. Menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebanyak 105 ekor ulat tembakau diuji dengan 5 variasi konsentrasi semprotan melalui 3 kali pengulangan perlakuan:
- Proses Pembuatan: 500 gram daun kenikir dihaluskan menggunakan mortar, kemudian direndam (maserasi) dengan 500 ml air selama 24 jam sebelum disaring dan diencerkan menjadi beberapa tingkat konsentrasi.
- Konsentrasi Ekstrak: Formula dibagi menjadi konsentrasi 0% (kontrol air), 25%, 50%, 75%, dan 100%.
- Tingkat Mortalitas (Kematian Hama): Pada pengamatan jam ke-72, konsentrasi rendah (25%) hanya membunuh 57,14% ulat karena aktivitas makan ulat masih tinggi akibat rendahnya zat aktif. Sebaliknya, pada konsentrasi 75?n 100%, rata-rata persentase mortalitas ulat tembakau berhasil mencapai titik sempurna 100%.
Solusi Murah dan Ramah Lingkungan bagi Petani
Melalui kesimpulan akhir riset ini, penggunaan ekstrak daun kenikir dengan konsentrasi minimal 75% dinilai sudah sangat efektif untuk mengendalikan hama daun di lapangan secara total.
Inovasi dari siswa SMPN 1 Temanggung ini menawarkan keunggulan berupa metode pembuatan yang sangat mudah, murah, dan aman bagi ekosistem pertanian. Bio-insektisida nabati ini diharapkan menjadi opsi alternatif bagi para petani di "Kota Tembakau" untuk menekan biaya produksi pertanian sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih dari paparan zat kimia berbahaya.
BAPPERIDA